Rabu, 23 Maret 2011

Hidup itu bak siklus hujan

Assalamualaikumm... ^_^..

Holla everybody! Pagi ini Padang seugeeer banged dah..  Yah, ga beti-beti (baca: beda tipis)  amat dengan ‘duuh dingiiinn’...hahha... semalam hujan ....  lebat!! .... jam 00.00 ujan baru aja start, ga berhenti sampe subuh berkumandang... Untung aja ga ada atap rumah yang bolong,.. jadi ga perlu repot sana-sini nyari ember, hihihi....(alhmdllh, terimakasih ya Allah)

Tapi yang paling sangat untung, kami ga kebanjiran.... ;D warga komplek sini care dengan kerbersihan.. walopun area rumah kami ga terlalu jauh dari jembatan, tapi ga berpotensi banjir... (Alhamdulilah).....
Ingat hujan, jadi ingat pelajaran biologi SMA... ingat siklus hujan... Siklus yang berawal dari satu proses dan berakhir sampai dengan proses tersebut...  Entah dimana siklus itu bermula... Tapi anggap saja hujan berawal dari titik titik air yang jatuh kebumi, kemudian tersimpan menjadi berbagai ragam air.. air laut, danau, sungai, sumur, dan segala macam air, yang akan mengalami evaporasi, kondensasi dan buush.. kembali menjadi rintik hujan.... sungguh proses yang sangat luar biasa..... dan Sungguh luar biasa yang menciptakan siklus tersebut... Subhanallah.....
Seperti  siklus hujan, kehidupan kita ini seperti siklus...titik awal berasal dari sang pencipta dan akan berakhir dengan kembali ke Sang Pencipta...  Apa yang harus kita sombongkan dari hidup ini... tatkala nyawa dan kehidupan kita hanya megikuti alur *berupa siklus yang semua tu telah diatur oleh Allah... Tatkala kita kaya, itu hanya boonus bahkan mungkin ujian yang diberikan Allah pada kita...  Dan tidak ada yang memastikan berapa lama kekayaan itu akan bertahan.. Kemudian dengan tak terduga jatuh kedalam kemiskinan...

Allahumabisshawab.....

Pagi ini, mari kita beristigfar.... ingat kembali  kekayaan yang kita cicipi ini hanya bersifat sementara.... Saat kita lahir, tanpa pakaian dan tanpa membawa apa2, kosong ..... dan ingatlah, saat kita kembali pada Nya, kita juga akan kosong tanpa membawa harta secuilpun.... Kenapa?
karena hidup itu seperti siklus....

Waslm.


2 komentar:

  1. Orang yang sedang tenggelam,
    tidak perlu merisaukan hujan.

    Banyak orang yang kehidupan pribadinya
    sangat lemah,
    masih sibuk memprotes ke sana ke mari
    yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan
    yang akan menyelamatkan ketertinggalan ekonominya.

    Dia seharusnya menegakkan kepala,
    menegapkan tubuh, memanjangkan leher,
    sibuk menggapai tangan yang bersahabat,
    dan menyeruak untuk menghirup nafas kebaikan.

    BalasHapus
  2. Mirip kata2 pak Mario yaa??

    but tq sob..%_%

    BalasHapus

Haaiii... jangan lupa tinggalkan komen... Yang sopan ya Sob.. ^_^